|

Jaga Kesehatan Jiwa Umat, Pengurus LDII Batam Ikuti Pelatihan Mental Health Gatekeeper for Faith Leaders

Batam – Pengurus DPD LDII Kota Batam turut ambil bagian dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk “Mental Health Gatekeeper for Faith Leaders”, Jumat (11/9/2026), pukul 14.00-16.00 WIB, bertempat di Mulligan Room, Hotel Radisson, Batam.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) Perhimpunan Psikiater Peduli Perempuan dan Anak dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PPP PDSKJI), bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam. Sasaran kegiatan ini adalah para pemuka agama di Kota Batam dan sekitarnya.

LDII Kota Batam mengirimkan tiga pengurusnya untuk mengikuti kegiatan ini, yakni Ketua DPD LDII Kota Batam H. Rudy Budi Suhardi, M.M., serta Bendahara H. Suratman, S.Kom., M.T., dan Siajis, S.T.

Bekali Pemuka Agama Jadi “Gatekeeper” Kesehatan Jiwa

Kegiatan ini dirancang untuk membekali para pemuka agama dengan pengetahuan dasar mengenai kesehatan mental, pengenalan dini tanda dan gejala gangguan jiwa, serta langkah pertolongan pertama pada masalah kesehatan mental. Melalui pelatihan ini, para pemuka agama diharapkan dapat berperan sebagai gatekeeper yang mampu memberikan respons awal secara empatik dan tidak menghakimi, serta membantu mengarahkan individu yang membutuhkan ke layanan profesional yang tepat.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara psikiatri, spiritualitas, dan komunitas keagamaan, sehingga pendekatan terhadap kesehatan jiwa dapat dilakukan secara lebih holistik dengan tetap menghormati nilai, keyakinan, budaya, dan martabat setiap individu.

Format FGD, Pemuka Agama Berbagi Kelompok dengan Psikiater

Berbeda dari pelatihan pada umumnya, kegiatan ini tidak diisi pemaparan materi satu arah dari pemateri di depan forum, melainkan dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) pengabdian masyarakat dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Tahun ini, kegiatan pengabdian tersebut kebetulan diselenggarakan di Kepulauan Riau, tepatnya di Kota Batam, dengan FKUB Kota Batam sebagai mitra penyelenggara di daerah.

FKUB dipilih sebagai mitra karena forum ini menjadi wadah berkumpulnya para pemuka lintas agama, yang dalam keseharian juga kerap menjadi tempat mengadu bagi jemaah atau umatnya apabila mengalami gangguan mental atau stres.

Dalam pelaksanaannya, seluruh peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, masing-masing beranggotakan sekitar 6 orang, dan didampingi oleh 3 dokter spesialis kejiwaan (psikiater), yakni dr. Rahmawati, Sp.KJ., dr. Avicenna, Sp.KJ., dan dr. Amel, Sp.KJ. Melalui skema ini, peserta dapat berbagi dan berdiskusi langsung mengenai langkah-langkah penanganan awal apabila menemukan jemaah yang mengalami gangguan mental atau kejiwaan.

Kelompok yang diikuti perwakilan LDII Kota Batam beranggotakan 2 orang dari LDII, 3 orang dari PC NU, dan 1 orang dari IPIM, dengan mentor pendamping dr. Rahmawati, Sp.KJ.

Kenali Beda Depresi, OCD, dan Skizofrenia

Dalam sesi diskusi kelompok, dr. Rahmawati, Sp.KJ., menjelaskan bahwa tidak semua gangguan kejiwaan tergolong depresi. Perilaku mengulang-ulang suatu tindakan, seperti mencuci tangan berkali-kali atau menata sesuatu tanpa bisa berhenti, sebenarnya merupakan ciri Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), bukan depresi. Sementara itu, kondisi seseorang yang berjalan-jalan tanpa arah, berbicara atau tertawa sendiri, serta mendengar bisikan yang tidak nyata, tergolong Skizofrenia atau gangguan jiwa berat.

Adapun tingkatan depresi yang perlu dikenali para pemuka agama dijelaskan sebagai berikut:

  1. Depresi ringan – ditandai rasa sedih berkepanjangan, namun penderita masih dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
  2. Depresi sedang – rasa sedih yang sudah berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, disertai gejala-gejala lain yang menyertainya.
  3. Depresi berat – rasa sedih berkepanjangan yang sudah disertai pikiran putus asa, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Sementara itu, Skizofrenia atau gangguan jiwa berat ditandai dengan gejala yang lebih ekstrem, seperti mendengar bisikan yang tidak nyata, berbicara sendiri, hingga berjalan-jalan tanpa arah yang jelas.

Para pemateri mengingatkan, kondisi kesedihan atau tekanan yang tidak kunjung membaik dan berlangsung lebih dari 15 hari perlu diwaspadai dan segera ditangani secara serius, termasuk dengan merujuknya ke layanan profesional. Terlebih apabila sudah muncul tanda-tanda putus asa atau pikiran untuk mengakhiri hidup, pemuka agama diharapkan segera mengarahkan jemaah yang bersangkutan untuk mendapatkan pendampingan tenaga profesional.

Perkuat Peran Pemuka Agama sebagai Mitra Layanan Kesehatan Jiwa

Keikutsertaan pengurus LDII Kota Batam dalam kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian organisasi terhadap isu kesehatan jiwa di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat jejaring antara profesional kesehatan jiwa dan tokoh lintas agama di Kota Batam. Melalui kolaborasi semacam ini, diharapkan lahir masyarakat Kota Batam yang lebih peduli, inklusif, dan responsif terhadap kesehatan mental, dengan para pemuka agama sebagai salah satu ujung tombak edukasi dan pendampingan awal di lingkungan umatnya masing-masing.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *